Simurid yang kebetulan bukan tinggal di daerah nelayan, tentu tidak serta merta memahami pesan gurunya tadi, kenapa …….. , karena awalnya si murid menduga kalau ikan asin yang dijual di pasar adalah asin pembawaan atau asin dari sananya, namun setelah si murid bertanya ke berbagai sumber dan berkunjung ke salah satu perkampungan nelayan, maka tahulah ia akan arti kata-kata yang dipesankan gurunya. Ternyata ikan yang berasal dari laut itu tidaklah asin sebagaimana yang diduganya, namun asinnya itu diperoleh setelah melalui proses pengasinan.
Bila kita cermati lebih jauh, atau coba dengarkan salah satu bait lagu berita kepada kawan yang dinyanyikan oleh Ebiet, “bila kita kaji lebih jauh …….” Masih banyak tangan, yang tega berbuat nista, ho… ho… ho…..” tentu kita akan melihat sebuah mutiara terpendam yang dapat kita ambil dari kehidupan ikan di laut. Mustahil menurut logika umum, tapi nyata dalam kehidupan ikan. Bergumul di lingkungan yang asin, namun tidak ikut asin, “sungguh luar biasa”. Sangat berbeda dengan teori yang menyatakan 60% kehidupan seseorang dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia tinggal. Kalau saja semua orang bisa bersosialisasi dengan berbagai macam pola kehidupan, tanpa pernah merubah jati dirinya, “sebagai mahluk yang maha tinggi derajatnya”. Tentulah kita tidak akan melihat berbagai Permasalahan Sosial datang silih berganti di negeri yang kita cintai ini.
Begitupula bila kita melihat kisah seorang Nabi yang bernama Ibrahim, di lingkungan apa beliau tinggal, dan dari orang tua mana beliau berasal, namun…… karena, memang Ibrahim adalah gambaran kehidupan manusia, lingkungan buruk, tidaklah menjadikan Ibrahim larut dalam keburukan. Atau sebaliknya, cerita tentang anak dan istri Nabi Luth. Lingkungan keluarga yang baik, tidak serta merta menghasilkan anak dan istri yang baik.
Bila kita melihat kedua kisah di atas -yang memang merupakan sebuah gambaran kehidupan yang harus menjadi renungan-, untuk selanjutnya, apa yang harus kita lakukan ……… ?
Tidak lain, hanyalah mohon petunjuk dari Sang Pemberi Petunjuk dalam mengarungi bahtera kehidupan yang penuh dengan berbagai fenomena yang melalaikan dari mengingat Kekuasaan-Nya.
Hal senada juga pernah diungkap oleh seorang Pujangga Jawa “Ronggo Warsito” yang terkenal dengan ramalan Joyoboyo dalam sebuah seratnya Kala Tida, beliau menulis : ………. sebahagia-bahagianya orang lupa, masih lebih bahagia orang yang senantiasa ingat dan waspada.